You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Bengkel
Logo Desa Bengkel
Desa Bengkel

Kec. Kediri, Kab. Tabanan, Provinsi Bali

INGAT PROTOKOL KESEHATAN: Rajin Mencuci Tangan, Gunakanlah Masker dan Jaga Jarak Saat Berinteraksi

Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Pemdes 10 Maret 2021 Dibaca 222 Kali
Buanglah Sampah Pada Tempatnya

Kemajuan teknologi menyebabkan kita harus beradaptasi dan menyesuaikan pola hidup dan kebiasaan. Salah satunya, kita harus beradaptasi terhadap pola manajemen sampah.

Saya yakin, tidak ada satu orang pun yang ingin lingkungannya terlihat kotor. Semua pasti ingin melihat kamar yang rapi, rumah yang bersih dan lingkungan yang sehat.

Namun jarang ada yang menyadari, kitalah sebenarnya sumber kotor itu. Kitalah sebenarnya yang memproduksi sampah yang menumpuk di TPA itu. Kita terlalu asik untuk mengomentari orang lain tanpa merubah prilaku kita sendiri.

Ada yang mengatakan, dulu tetua kita tidak sebegitunya mikirin sampah. Buang saja sembarang, nanti juga hilang. Ngapain repot? Saya sibuk, tidak sempat memilah sampah!

Kata-kata "Memilah Sampah" sepertinya menjadi momok yang begitu menjijikan ditelinga kita dan menganggapnya kotor dan menghabiskan banyak waktu.

Nah, saya ada ide. Bagaimana kalau frase "memilah sampah" itu kita ganti menjadi "membuang sampah pada tempatnya".

Siapkan satu tempat sampah seperti pada gambar yang berisi tiga lubang yang nantinya digunakan untuk meletakan kantong-kantongnya.

Kantong pertama adalah tempat membuang sampah plastik lembaran (kresek, pembungkus makanan, kresek kiloan, sedotan dsb). Kantong kedua adalah tempat membuang sampah botol, baik dari kaleng, plastik maupun kaca. Yang terakhir, tempat membuang sampah daun, sisa upakara, bunga dan sampah organik sejenis.

Nah setelah membuang sampah pada tempatnya seperti ilustrasi diatas, lalu diapakan sampah-sampah tersebut? Kantong pertama dan kedua bisa dijual. Kalau didesa sudah ada bank sampah silahkan dijual ke bank sampah. Kalau belum ada, jual ke pemulung. Namun pastikan pemulung juga mau mengambil sampah di kantong pertama. Jangan cuma kantong kedua. Ingat itu!

Terus kantong ke tiga, bisa disetor ke Rumah Kompos. Sampah organik di kantong ketiga itu bisa diolah menjadi kompos dan bisa menghasilkan uang juga. Kalau diwilayah sendiri belum ada Rumah Kompos, sementara bisa dibuang di area terbuka yang ada tanahnya agar mudah terurai. Ingat, jangan dibuang ke Sungai!

Kalau dibuang ditempat terbuka apa tidak bau? Ya kalau yang dibuang sampahnya basah dan ada bangkai, pastinya bau. Kalau sampahnya terlalu basah, tutup dengan daun kering. Karena kandungan "N" dalam daun dapat menghilangkan bau.

Jadi bagi yang suka lingkungan bersih, ingat ya. Yang memproduksi kotoran itu kita, sehingga kitalah yang wajib bertanggung jawab terhadap kotoran itu sendiri. Kalau kotor itu dilihat dari sisi berbeda dan dimanajemen dengan baik, kotoran itu bisa bermanfaat.

Sistem manajemen sampah di era informasi saat ini sudah berubah. Rumah Komposting adalah tempat yang bersih. Tidak sekotor yang ada dipikiran kita yang masih kolot dan susah move-on.

Tidak mudah memang. Sebab masih banyak diantara kita yang masih belum mau merubah prilaku. Kita hanya ingin tahu bersihnya saja. Tidak ingin tahu kotor dan dampak-dampak lanjutanya.

Jika manajemen sampah sebuah wilayah berhasil, itu artinya wilayah tersebut mampu merubah prilaku masyarakatnya. Nah kalau belum, itu artinya prilaku kita sebagai masyarakat belum mau dirubah dan diajak menjadi lebih baik, lebih bersih dan lebih sehat.

Video dan foto diatas adalah salah satu alat sederhana yang kami buat untuk mentransformasi kesadaran kami bersama untuk memanajamen sampah di Desa. Prioritas akan diberikan kepada warga yang telah menjadi nasabah di Bank Sampah. 

Apakah akan berhasil? Pertanyaan itu kami kembalikan lagi, SUDAHKAH ANDA MEMBUANG SAMPAH PADA TEMPATNYA?

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBD 2026 Pelaksanaan

APBD 2026 Pendapatan

APBD 2026 Pembelanjaan