You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Bengkel
Logo Desa Bengkel
Desa Bengkel

Kec. Kediri, Kab. Tabanan, Provinsi Bali

INGAT PROTOKOL KESEHATAN: Rajin Mencuci Tangan, Gunakanlah Masker dan Jaga Jarak Saat Berinteraksi

Perempuan dan Shakti

Pemdes 28 Februari 2021 Dibaca 836 Kali
Perempuan dan Shakti

Oleh : Putu Wawan

Sri Maharaja Aiswarya Dala penguasa negeri Patali terkagum-kagum oleh kemahiran Ni Diah Tantri. Ia  mampu mempresentasikan maha karya sastra yang mengandung petuah-petuah suci dengan sangat baik. Diantaranya, Ia fasih bercerita isi kitab Nandaka Harana karangan Rsi Basubagha, tentang Smara Dhahana yang berkisah tentang burung garuda menghadap Dewa Wisnu. Pada kisah yang lain, ia bercerita kosmologi tentang penciptaan alam semesta, yang berlakonkan Bhagawan Wasista yang menerima anugerah lembu betina yang bernama Nandini serta bercerita tentang Sri Darma Swami pendeta miskin yang mendapat anugerah lembu jantan berkat giat melakukan tapa bratha. Lalu ia bercerita kisah berangkai mengenai Prabu Gaja Druma yang kurang pertimbangan memilih patih serta kisah Bhagawan Sri Yadnya Dharma Swami.

Keahlian dalam penguasaan sastra itulah akhirnya Ni Diah Tantri dijanjikan akan diperistri oleh Sri Maharaja Aiswara Dala sebagai permaisuri kerajaan Patali. Sehingga berkat Ni Diah Tantri, Sri Maharaja Aiswara Dala tersadar bahwa apa yang dia lakukan selama ini merupakan kekeliruan hidup yang hanya mementingkan kepuasan ragawi saja. Hadirnya Ni Diah Tantri menegaskan bahwa seorang perempuan mampu meruntuhkan kebuasan hasrat seks sang raja tanpa harus kehilangan kehormatannya pun tak menimbulkan kekerasan fisik. Berkat kelihaian dalam penguasaan sastra, Ni Diah Tantri secara tidak langsung menegaskan bahwa perempuan itu sebagai sosok yang terhormat, searas dengan penjelasan Zoetmulder yang mengambil urat kata Empu sebagai inti kata yang dijadikan patokan argumentasinya.

Kehormatan perempuan dibuktikan oleh kodratnya yang diberikan tanggung jawab lebih oleh alam, ia mengandung, melahirkan, menyusui bahkan sampai memberikan pendidikan awal kepada anak-anaknya. Dari tanggung jawab yang berat itu, beberapa pemikir menyepadankan perempuan dengan Bumi, ia sebagai penyangga kehidupan semua makhluk. Salah satu pemikir seperti Zoetmulder, mengartikan perempuan selain sebagai sosok yang terhormat, ia juga mengartikan sebagai sosok ahli, penyangga pun pemimpin. Namun, jika ditilik dari makna kata jawa kuno, perempuan juga diartikan sebagai air mata. Mungkin tidak sedikit perempuan menyelesaikan masalah kehidupannya dengan air mata. sebagai sosok yang lemah lembut dan berperasaan sangat halus.

Penegasan perempuan bermakna air mata, lebih lanjut dijelaskan dalam kekawin Sumanasantaka. Dalam kekawin tersebut diceritakan ada perempuan yang bernama Dyah Jaya Waspa, yang dikisahkan sebagai pengasuh seorang putri yang bernama Indumati, yang meninggal disebabkan oleh bunga Sumanasa yang jatuh sungsang dari langit jatuh tepat di belahan susunya. Dalam bahasa kawi Waspa diartikan sebagai air mata, sehingga nama Dyah Jaya Waspa diartikan perempuan yang telah mencapai sarinya air mata (tangis). Apa sari tangis itu ? Konon seperti orang yang berperang di medan perang melawan air mata, demikianlah alasan sederhana sebagai landasan untuk memahami sari ning carita, begitu  menurut IBM Palguna.

Perempuan pada kisah yang lain, ia sosok penguasa alam mistis, sebut saja kisah Calon Arang yang termasyur, dalam kitab itu disebut Walu Nateng Dirah sosok perempuan mistis dari Dirah yang menguasai Tantra Bhairawa. Ditegaskan juga dalam kitab Sarasamuscaya  menjelaskan perempuan dinyatakan sebagai sosok Durga sebagai simbol ’kegelapan’, bahkan Kala, Ghana, dan Kumara harus belajar dari Ibu Durga sebelum ia tahu ayahnya Dewa Siwa. Begitupun para dewata harus berguru kepada Durga jika ingin bertemu Dewa Siwa.  Siwa sendiri disimbolkan sebagai ‘Terang’ lalu ada ungkapan yang menyatakan, belajarlah dari kegelapan (Durga) sebelum tahu cahaya (Siwa), bukankah gelap itu ada karena ketiadaan cahaya ?  Sehingga Durga pada pengetahuan selanjutnya dipasangkan dengan Dewa Siwa sebagai saktinya.

Durga dalam beberapa literatur disebutkan sebagai penguasa alam gaib, sehingga pada para pemuja sakti (Sakta), memfokuskan pemujaannya pada Durga. Sehingga sakti kemudian difahami sebagai aspek feminim dari Tuhan dalam literature Hindu. Di Nusantara pengetahuan tentang Durga terdapat dalam beberapa teks, diantaranya, teks Sudamala, Sri Tanjung, Gatot Kaca Sraya, Partha Yajna. Dalam salah satu teks tersebut dinyatakan Durga turun ke bumi untuk menyelamatkan umat manusia (Sidapaksa dan Sri tanjung) yang sedang kesusahan dan keputus-asaan. Pada teks yang lain ada yang menyebut Durga turun ke Bumi setelah mendapat kutukan dari Hyang Guru karena kedapatan selingkuh dengan penggembala Sapi, yang notabene pengembala sapi itu sendiri adalah Siwa yang sedang menyamar .

Sakti dilihat dari etimologinya, ia berasal dari bahasa Sanskerta, Monir William menterjemahkan sebagai kekuatan, kemampuan pun energi. Sakti dikatakan mewakili gaya dinamis yang diduga bergerak ke seluruh alam semesta, sakti merupakan personifikasi energi yang kreatif, menopang sekaligus mampu melebur segalanya. Sebagai sakti ia juga dikenal sebagai Adi Sakti atau Adi Para Sakti yang memanifestasikan dirinya dalam semua bentuk materi seperti energi panas, energi potensial, energi grafitasi dan sebagainya. Dalam filsafat Samkya sakti juga dinyatakan bersifat materi yang kerap disebut sebagai Predana. Sakti inilah dikatakan sebagai pembentuk alam semesta, sebab hanya predana (perempuan) yang beranak sehingga Samkya selanjutnya dinyatakan terbentuk oleh 25 tatwa.

Dalam Samkya dijelaskan, perempuan mewakili aspek kebendaan dan laki-laki mewakili kerohanian (jiwa). Sehingga dipahami bahwa kehidupan terjadi ketika aspek kebendaan bersatu dengan aspek jiwa, Jika mereka terpisah kematian sudah menjadi kepastian. Seperti perempuan yang berpisah dengan pasangannya (bercerai) kerap disebut perempuan yang tak “berjiwa” atau janda.  Pada tradisi jawa, janda disebut Rondo, lalu mendapat berubahan kata menjadi Rangda yang kerap disebut sebagai perempuan pembenci karena kehilangan cinta. Janda yang menikah lalu bercerai tiga kali di Bali dikenal dengan istilah Rangda Tiga. Sehingga muncul suatu keyakinan, dalam menentukan hari baik sangat disarankan untuk menghindari pawukon Rangda Tiga jika ingin melangsungkan pernikahan, bagi siapa yang melanggar dikhawatirkan akan berujung pada perceraian bahkan kehilangan nyawa.

Disamping itu perempuan yang diberi gelar Rangda Tiga kerap diyakini masyarakat Bali sebagai perempuan sakti. Dia dianggap puncaknya membenci seperti Dewi Kali yang siap menjalankan misi dendamnya, sehingga di beberapa daerah kerap para janda tiga kali ini dicurigai menguasai ilmu hitam, yang mampu melancarkan ilmu teluh, teranjana. Seperti kisah Walu Nateng Dirah yang sakit hati dikucilkan oleh masyarakat, sehingga tidak satupun ada pemuda yang berani melamar anak semata wayangnya Dyah Ratna Mangali. Walu Nateng Dirah menyebar terror di masyarakat menyebabkan banyak jatuh korban, sehingga harus Mpu Baradah yang turun tangan menyadarkan kekeliruannya.

Jadi perempuan dan sakti melekat dalam dirinya, ia sekaligus merupakan aspek material yang dijelaskan dalam berbagai literatur. Karena merupakan aspek material, ia disepadankan dengan bumi, penyangga semua makhluk hidup yang berada diatasnya. Ia sekaligus sebagai lambang sayang, dan laki-laki sebagai lambang kasih. Namun jika ia marah akan menghancurkan segalanya yang ada diatasnya termasuk kehormatannya. Laksana letupan gunung Karakatau yang mengguncang dunia dan hampir memusnahkan seluruh peradaban yang ada diatasnya. Namun setelahnya ia kembali menyayangi seperti ibu dan memberikan kehidupan yang makmur setelahnya ….. Rahayu

 

Daftar Pustaka

  1. Ngurah Bagus, I Gusti th 1980 Ni Dyah Tantri, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
  2. Zoetmulder, PJ Th 1983 Kelangwan, Djambatan
  3. Dharma Palguna IBM, Th 2008 Sumanasantaka Bali Lestari
  4. Suastika I Made, Calon Arang dalam Tradisi Bali , Duta Wacana Press

* Artikel ini diterbitkan di Majalah Listibya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali 

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBD 2026 Pelaksanaan

APBD 2026 Pendapatan

APBD 2026 Pembelanjaan