Oleh : Putu Wawan
Suka duka lara pati merupakan bekal manusia di dunia begitu tertulis dalam geguritan Tamtan. Perasaan senang susah, sakit, lalu mati merupakan keniscayaan. Seperti saat ini dunia sedang susah dilanda Pandemi, tentu karena banyak orang sakit, lalu tak sedikit sampai mengalami kematian. Sudah barang tentu pula perasaan berduka tidak dapat dihindari bagi keluarga yang ditinggal mati orang-orang terkasihnya. Sungguh memilukan memang, terbunuh musuh yang tak kasat mata. Kita bagaikan hidup di zaman purba yang kental dengan nuansa mistis mengerikan. Padahal kita hidup di zaman digital, serba canggih bahkan masa depanpun diklaim bisa diketahui dengan menggunakan teknologi terkini. Namun faktanya kita takluk pada binatang kecil tak kasat mata yang sangat mematikan yang diberi nama Corona virus 19.
Hampir setahun sudah dunia dilanda pandemi Covid-19, namun korban virus ini tak kunjung surut. Pandemi Covid-19 pun tak henti menjadi topik perbincangan utama di dunia. Sehingga hampir semua Negara perlu memberlakukan aturan yang memaksa masyarakatnya, bertujuan agar pandemi ini cepat mereda, sehingga perekonomian dunia segera pulih seperti sedia kala. Namun sialnya pandemi tak kunjung mereda bahkan sebaliknya menjadi-jadi. Konon muncul lagi varian Covid-19 yang baru sehingga menyebabkan para pemimpin dunia kembali resah. Di Indonesia menurut data statistik terkini, menyebutkan bahwa yang tertular virus mematikan ini meningkat dari sebelumnya. Pemerintah menilai masyarakat belum bisa diajak kerjasama walaupun telah diberlakukan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB), terutama untuk pulau Jawa dan Bali.
Di masa lampau, pandemi semacam ini pun pernah terjadi, seperti dituturkan pada cerita Calon Arang. Dikisahkankan Raja Airlangga tak luput dari rasa berduka yang dalam, ketika mengetahui wilayahnya terjangkit pandemi, tidak sedikit masyarakatnya menjadi korban. Entah himbauan apa lagi yang harus beliau sampaikan kepada masyarakat, entah yadnya apa yang harus beliau sarankan untuk menangani pandemi yang meluas di Daha, pun tak kunjung reda. Akhirnya beliau memanggil tetua ashram di desa Lemah Tulis yang bernama Mpu Baradah. Raja Airlangga meminta pertimbangan, langkah apa yang harus dilakukan untuk menanggulangi pandemi, apa dan siapa yang menyebabkan pandemi ini sehingga menelan korban begitu banyak, pun menyebabkan perekonomian porak poranda?
Kabar baiknya Mpu Baradah menyanggupi membantu kerajaan yang sedang tertimpa Pandemi. Dari analisanya, beliau mencurigai ada seorang janda Tantrika pemuja Shakti Durga dari Dirah, sedang menjalankan desti teluh tranjana yang dahsyat. Dari kesaktiannya mampu menyebarkan wabah penyakit yang mematikan. Dari informasi yang dikumpulkan, disebabkan ia sakit hati, dicemooh dan dikucilkan masyarakat, sehingga putri semata wayangnya yang cantik tak ada satupun yang berani melamar. Mpu Baradah lalu melaporkan data lapangan kehadapan Raja Airlangga. Keputusan Airlangga berserah kepada sang Mpu untuk menyelesaikan masalah negara. Bagaimanapun caranya agar pandemi ini cepat teratasi agar ketentraman masyarakat kembali pulih serta perekonomian kembali bergeliat.
Mpu Baradah lalu menyusun strategi mempersunting anak semata wayang Nateng Dirah, dengan memberi mandat kepada anaknya Mpu Bahula. Berangkatlah putra Mpu Baradah, Bahula untuk melamar Ratna manggali, misi besarnya untuk menggambil lontar kesaktian Nateng Dirah Ibu Ratna Manggali selanjutnya akan diteliti, lontar apa sebenarnya? Akhirnya misi Bahula berasil mengambil lontar kesaktian mertuanya. Setelah diteliti ternyata lontar kesaktian Ni Nateng Dirah adalah lontar kelepasan, yang berjudul Lipyakarana. Namun ajaran ini ia balik sehingga menjadi ilmu teluh yang memiliki daya magis yang luar biasa dahsyat. Ilmu ini berdaya guna dipastikan Ibu Ratna Mangali mendapat restu dari ibu Durga ketika menggelar ajian mistik ini. Dalam perjalanannya Mpu Baradah mampu mengalahkan kesaktian Ni Nateng Dirah, berbekal kajian lontar Lipyakarana tadi. Berkat rasa kasih Mpu Baradah, Ni Nateng Dirah diampuni, namun Ni Nateng Dirah memilih mengakhiri hidupnya.
Belajar dari kebijaksanaan Airlangga yang melibatkan para akademisi dan pakar dalam menangani wabah seharusnya menjadi inspirasi bagi para pengambil kebijakan saat ini. Harapan besar masyarakat agar wabah segera teratasi dan ekonomi masyarakat segera bergeliat agar tidak menimbulkan petaka yang lebih besar bagi bangsa dan Negara. Sebaliknya peran aktif masyarakat juga dibutuhkan dalam mencegah penyebaran Covid-19 ini dengan selalu menjalankan protokol kesehatan misalnya. Serta ikut berperan aktif mengedukasi masyarakat yang lain, setidaknya di dalam lingkungan keluarga sendiri. Serta ikut mensukseskan program pemerintah, seperti Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) dalam beberapa saat untuk menghindari kerumunan dan sebagainya.
Catatan sejarah menyatakan, Bali sejatinya telah memilki pengalaman dalam menangani pandemi di masa lalu. Tidak sedikit teks-teks lontar usadha yang mencatat cara mencegah maupun mengobati berbagai wabah penyakit yang kerap disebut dengan Sasab, Gering agung dan sebagainya. Lontar-lontar tersebut diantaranya, usada Rare, usada Kecacar, usada Tuju, usada Paneseb, usada Dalem dan banyak lagi lontar-lontar yang lainnya. Di samping itu dari catatan beberapa lontar, di beberapa wilayah di bali pun memiliki pengalaman buruk ketika wabah menyerang seperti misalnya daerah Sidatapa, Kalianget, Julah, Pedawa, Sembiran bahkan di Dukuh Penaban daerah Karangasem.
Tak kalah menariknya ketika kita membaca lontar usada yang lain seperti Taru Premana misalnya. Lontar ini juga menceritakan pengalaman dalam menangani Pandemi yang terkenal dengan wabah Cakbyag (mati seketika di tempat) menjangkiti para warga. Lontar ini menceritakan Warga yang kala itu dilanda kesedihan yang mendalam, mendatangi lalu memohon pertolongan kepada Mpu Kuturan. Mpu Kuturan merasa iba kepada warga desa yang kena musibah, mantra-mantra yang beliau ucapkan tak satupun mampan untuk menolong. Akhirnya beliau bertapa, mohon petunjuk kepada Ida Bathari, beliaupun diceritakan mendapat anugerah dari Bhatari Ghori (Durga). Dalam lontar Taru Premana disebutkan setidaknya 202 tumbuhan sebagai obat yang ampuh untuk mengobati berbagai penyakit, akhirnya masyarakatpun banyak yang terselamatkan dari wabah yang mematikan.
Dari rentetan peristiwa itu, entah kita yakini sebagai mitos pun cerita belaka, setidaknya tetua kita mengingatkan bahwa siapapun tidak kebal terhadap berbagai penyakit, dan kita dihimbau agar selalu eling dan waspada. Seperti saat ini dunia dilanda Pandemi yang telah membuat para pengambil kebijakan kalang kabut. Segala daya upaya telah dilakukan pemerintah baik dari sisi sekala dengan memberlakukan protokol kesehatan, memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak dan menyiapkan vaksinnya. Di sisi niskala, masyarakat beserta pemerintah telah mengadakan ritual untuk memohon kehadapan sang pemilik hidup Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk dijauhkan dari Pandemi, namun belum menunjukan tanda-tanda kapan pandemi ini akan berakhir. Walaupun demikian kita hendaknya bersabar dan tetap berperan aktif untuk mengikuti anjuran pemerintah agar pandemi ini tidak meluas…… Rahayu
* Artikel ini telah dimuat di Majalah Wartam Edisi Februari 2021