Pendidikan karakter di satuan pendidikan, bukanlah hal yang baru. Semua satuan pendidikan telah melaksanakannya sampai tingkat tertentu. Namun terdapat sejumlah faktor yang menuntut adanya penguatan pendidikan karakter. Salah satunya adalah Pendidikan Karakter Dalam Keluarga.
Di keluarga, setiap orang tua hampir dipastikan sangat mendambakan anak yang mandiri, disiplin, dan berperilaku baik lainnya. Namun sangat mudah sekali ditemui orang tua yang tidak menunjukkan perilaku yang mampu memberi contoh tentang nilai-nilai itu.
Sebagai contoh, banyak orang tua yang mengantarkan anaknya ke satuan PAUD dengan naik motor tanpa mengenakan helm. Selain itu, banyak dari mereka tanpa sadar menjauhkan anak dari sifat mandiri dengan membawakan tas anak mereka, selalu menyuapi makan, dan menuruti yang diinginkan anak.
Selain kontradiksi itu, banyak anak usia dini yang tidak terlepas dari masalah yang dihadapi keluarga saat ini yang sedikit banyak dipengaruhi oleh perubahan- perubahan global dalam semua sendi kehidupan. Penggunaan teknologi informasi yang semakin canggih membuat anak-anak sejak usia dini terpapar banyak hal dari berbagai media.
Hal ini berpengaruh pada diri anak, misalnya anak memperoleh informasi yang terkadang kurang sesuai dengan kebutuhan dan usia perkembangannya, anak menjadi kurang fokus, kurang sabar, dan kurang melatih motoriknya.
Pola komunikasi dalam keluarga pun berubah akibat kesibukan orang tua yang tinggi. Anak menjadi kurang memiliki kelekatan (attachment) dan kurang merasakan sentuhan. Dampak modernisasi sangat terasa di keluarga, misalnya orang tua semakin tidak memiliki waktu yang memadai untuk menemani bermain, membacakan cerita sebelum tidur, serta membimbing dalam kegiatan sehari-hari seperti sikat gigi, membersihkan diri, dan makan.
Selain itu, orang tua kerap kurang sabar dalam menghadapi berbagai perilaku anak dan bahkan sebagian melakukan kekerasan pada mereka.